Jawaban Doa (Sharing Pelayanan Kesehatan Klinik Trinity)

JAWABAN DOA
Oleh Martina Pakpahan

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita”. (Efesus 3: 20)

Setiap kita tentu memiliki pengalaman doa yang beragam. Mengalami Jawaban doa yang berbeda. Ada saat di mana doa Tuhan jawab dengan “ya”, “tidak” bahkan “tunggu”. Hal ini jugalah yang Tim klinik alami dalam pelayanan klinik Trinity hingga saat ini. Pengalaman berdoa, menanti jawaban doa dan menikmati jawaban doa. Pelayanan yang dimulai dari keperihatinan melihat kondisi masyarakat Batak di Bonapasogit dan kerinduan untuk dapat berbuat sesuatu, itulah yang menjadi awal terbentuknya tim klinik sekitar 3 tahun lalu dan kemudian memulai pelayanannya ditahun lalu. Kerinduan untuk melayani masyarakat Batak khususnya di sekitar Parapat dan daerah yang terpencil (terisolir) disekitar Danau Toba. Klinik Trinity memulai pelayanannya di bulan Mei 2014 di desa Motung, lalu kemudian di pondok buluh September 2014, dan terakhir pada 16-21 Januari 2015 melayani desa Sigampiton, Horsik  Sirungkungon dan Motung. Kami menikmati TUHAN menjawab doa bahkan melebihi apa yang kami pikirkan dan doakan.

Dimulai dari jawaban doa akan cuaca cerah selama kegiatan pelayanan berlangsung dijawab TUHAN. Sebelum pelayanan dimulai bahkan di hari saat tim tiba di Parapat, hujan terus-menerus turun. Untuk beberapa hari hujan berhenti dan kembali turun pada tanggal 20 malam. Hal lain yang TUHAN jawab adalah setelah 3 tahun terus berdoa dan mencari bentuk (metode) pelayanan, akhirnya kami menyeberangi danau Toba melayani desa-desa di tepian danau Toba seperti kerinduan di awal saat merintis klinik. Betapa takjub merenungkan cara TUHAN memimpin pelayanan klinik dan akhirnya menjawab kerinduan tersebut. “ Dreams come true”. Tidak berhenti di situ, pelayanan klinik terus berkembang dan lebih  luas  menjawab kebutuhan masyarakat  di Bonapasogit. Bergabungnya tim Atmajaya (Enny, Ferdy, Urupi) yang tidak kebetulan di dalam proyek pengadaan air bersih di desa Motung juga adalah jawaban doa. Klinik tak hanya menjawab kebutuhan akan kesehatan namun juga air bersih, sampah dan harapan kedepan mampu berkontribusi dalam hal ekonomi dengan rencana pengembangan kopi dll. Sungguh TUHAN bekerja melampaui apa yang kami pikirkan dan doakan.

Sampah, saat ini menjadi permasalahan di Parapat. Pada hari sehat yang dilakukan 17 Januari 2015, sampah ditemukan dan dikumpulkan di sepanjang rute jalan pagi yang dilalui. Tumpukan sampah tidak hanya di tempat pembuangan sampah namun di depan rumah, di parit-parit dan di pinggir jalan. Bahkan tempat sampah yang dibangun oleh YBD-KBD penuh sampah untuk jangka waktu yang lama. Hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan yang bersih dan keseriusan pemerintah setempat mengelola sampah. Aksi yang coba kami lakukan, kiranya  menjadi stimulus untuk masyarakat dan pemerintah setempat peduli dan bergerak menangani masalah sampah.

Pengobatan gratis dan konseling yang dilakukan di desa Sigampiton pada tanggal 18 Januari 2015, juga melayani desa Horsik dan Sirungkungon dengan menjemput mereka menggunakan kapal. Pelayanan kesehatan melibatkan tenaga medis dari RS. HKBP Balige, Puskesmas Ajibata dan bidan desa setempat. Masyarakat yang dilayani sekitar 270 orang. Terharu menyaksikan rona wajah bahagia mareka yang dilayani, tidak hanya fisik (pemeriksaan kesehatan) namun juga Firman Tuhan yang berkuasa itu diberitakan kepada mereka.

Pelayanan pengembangan masyarakat berupa proyek air bersih di Motung, menggunakan pompa hidram yang dikembangkan oleh Ferdy (Mahasiswa Atmajaya) dengan mengalirkan air melalui selang sejauh 237 M ke penampungan air yang dekat rumah penduduk. Untuk memperoleh air, biasanya di pagi dan sore hari kaum ibu berjalan sedikitnya 200 M menuruni lembah untuk sampai ke mata air.  Tak terpikirkan sebelumnya, respon masyarakat Motung begitu antusias. Mereka menyiapkan beberapa material yang diperlukan dalam pembangunan pompa, relawan tukang bahkan kaum ibu turut mengangkut pasir dengan ember di kepalanya. Pengalaman tidak langsung berhasilnya pompa hidram mengalirkan air saat pertama kali dirakit, menjadi ruang di mana tim bergantung penuh kepada Allah dan menjadi kesempatan melihat kesungguhan hati masyarakat Motung dalam project ini. Air pun berhasil keluar dan dialirkan ke sekitar rumah penduduk. Air yang jauh kini menjadi dekat:)

Bagaikan potongan puzzle yang dirangkai TUHAN begitu rupa untuk menggenapi rencana-Nya, demikianlah Tim klinik dan pelayanannya terus berkembang. Benarlah ayat di atas bahwa TUHAN melakukan jauh lebih banyak dari apa yang kita pikirkan dan doakan. Kami terus rindu berdoa dan menanti jawaban doa.
“Lanjutkan lagi TUHAN rencana Mu, nyatakan maksud Mu. Kami ingin terus belajar  percaya dan taat kepada Mu”
Kami berterimakasih kepada semua yang mendukung pelayanan ini baik dengan Diri, Doa dan Dana.
Mari bersama-sama terus mengambil bagian dalam menggenapi rencana TUHAN.

Jadilah Kehendak-Mu

      

“Jadilah kehendak-Mu, amin,” Kalimat itu selalu setia saya ucapkan kala doa selesai saya panjatkan. Bisa jadi, Anda pun sama dengan saya. Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa kalimat itu juga mengalami pertumbuhan dalam hidup Anda?

       Makin ke sini, saya merasakan bahwa kalimat yang sama itu, menggeliat makin bertumbuh, makin dewasa dibanding kala pertama saya ucapkan di Sekolah Minggu dulu. Tidak bisa dimungkiri peristiwa demi peristiwa menjadi ruang untuk dia bertumbuh. Satu di antaranya, perjumpaan saya dengan teman-teman yang sekarang tergabung dalam pelayanan kesehatan STT Trinity, kami biasanya menyebutnya, Tim Klinik STT Trinity.

       Masih lekat dalam ingatan, pergumulan dan doa-doa silih berganti diutarakan kepada Bapa Surgawi untuk terbentuknya gedung klinik dengan semua kelengkapannya. Tidak hanya itu, permintaan akan klinik berbentuk kapal pun diminta kepada Sang Pencipta Danau Toba. Sampai hari ini gedung klinik itu tidak ada wujudnya! Sudah hampir dua tahun, sejak pergumulan di gedung Perkantas, yang terwujud justru bak sampah dekat terminal Parapat, yang baru saja diserahkan bulan September lalu kepada perangkat desa di sana. Paramedis pun silih berganti dan tahun depan, kami pun masih bergumul untuk itu.

       Rupanya, apa yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat menurut kami, belum tentu sesuai dengan kehendak-Nya. Kesembuhan holistik bagi ratusan orang di Bonapasogit justru terjadi karena bentuk pelayanan kesehatan berupa baksos dan hari sehat. Di mana pelayanan kesehatan tidak hanya untuk masyarakat di desa-desa tetapi juga untuk mahasiswa STT Trinity. Lewat hari sehat, gerakan buat masyarakat untuk lingkungan dan dirinya sehat pun dilakukan. Banyak ragam bentuknya, satu di antaranya adalah memungut sampah-sampah di lingkungan sekitar sambil jalan pagi, September lalu.

     “Jadilah kehendak-Mu.” Kalimat itu, justru telah membawa saya seperti seorang petani yang bersorak-sorai menyambut musim panen! Masa panen itu, terjadi bulan Mei lalu di Motung, kampung halaman saya yang telah menjadi doa syafaat saya bertahun-tahun lampau. Masa panen itu justru saya dapat alami bukan di ruang massif gedung klinik melainkan di tenda-tenda dan ruang-ruang kelas di SD Motung. Hanya air mata syukur yang turun bagi Tuhan. Jangan kehendak saya Tuhan, kehendak-Mu yang jadi, hanya dengan itu saya bisa memasuki rahmat anugerah-MU.

Berperang Bagi Kerajaan Surga

Berperang Bagi Kerajaan Allah

oleh Ferry B. Tampubolon

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” (Matius 13:31-32)

Betapa sering biji sesawi yang kecil itu tidak dipedulikan, tidak ditanam dengan baik apalagi dirawat! Sehingga sulit untuk tumbuh besar dan menjadi tempat bagi burung-burung “bersarang pada cabang-cabangnya”. Ternyata sering sekali kita menganggap pemberian Tuhan berupa Kerajaan Surga itu kecil dan tidak berguna sehingga kita tidak menghargainya. Kerajaan Allah yang menjadi cita-cita dan tujuan hidup semua orang percaya itu sudah disediakan Sang Pencipta sebagai perwujudan kasihnya kepada manusia dalam satu karya yang luar biasa besar dan tegas: pengorbanan anak-Nya yang tunggal (Yohanes 3:16).

Perang dalam definisi duniawi adalah sebuah aksi fisik dan non fisik dalam kondisi permusuhan yang melibatkan kekerasan antara dua atau lebih kelompok manusia untuk memperjuangkan kepentingan tertentu. Perang secara purba dimaknai sebagai pertikaian bersenjata. Di era modern, perang mencakup superioritas teknologi dan industri. Perang dapat mengakibatkan kesedihan dan kemiskinan yang berkepanjangan. Mungkin semua kita masih ingat akan perang dunia yang mengakibatkan hilangnya nyawa jutaan nyawa di seluruh dunia.

Tentu saja, perang yang dibahas melalui tema kita bulan ini, berbeda.

Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. [Efesus 6:12-13]

Alkitab jelas menyatakan perang orang percaya bukanlah melawan musuh secara fisik, tetapi melawan pemerintah, penguasa, dan penghulu dunia serta roh-roh jahat. Tujuannya pun jelas: (13) “tetap berdiri sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu dengan menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah .”

Peperangan rohani yang kita alami tidaklah mudah karena manusia lemah dan terbatas. Sering saya menganggap enteng lawan-lawan itu, dan terjatuh. Para martir yang bertempur bagi Kerajaan Allah dengan bangga dan sukacitanya menyatakan “semua yang kulakukan hanyalah karena anugerah dan kasih Tuhan semata,” betapa mereka bergantung pada kemurahan Tuhan!

Matius 7:21 yang jelas menyebutkan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Maka peperangan yang pertama bagi orang percaya adalah melawan keinginan daging dan perhambaan dosa. Karena meskipun seseorang terlihat aktif melayani dan sibuk dengan kegiatan rohani, belum tentu dia melakukan kehendak Tuhan.

Firman Tuhan menyatakan bahwa orang yang berseru kepada Tuhan hanya dalam omongan saja dan tidak mempunyai hidup dan perilaku yang berbuah tidak akan memasuki kerajaan surga. Alangkah sia-sianya! Tidak peduli apakah dia juga bernubuat, mengusir setan, bahkan mengadakan banyak mukjizat dengan menggunakan nama Allah. Ironis sekali kalau orang-orang percaya menjadi lemah dan jatuh lalu meninggalkan Tuhan hanya karena kesenangan daging dan tidak mau taat.

Betapa beratnya peperangan itu! Betapa lemahnya manusia! Keterbatasan membuat kita tidak “tetap berdiri, sesudah … menyelesaikan segala sesuatu” (Efesus 6 :12). Bagaimana agar seorang manusia bisa tampil sebagai pemenang?

Dalam Matius 7 ada jawaban. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (23). Ternyata kuncinya hanya satu, “mendengarkan dan melakukan yang diperintahkan.” Itulah pegangan semua pejuang yang berperang bagi Kerajaan Allah untuk tampil sebagai pemenang. Sebagai ilustrasi, Lionel Messi bersama Barcelona hanya dapat memenangi pertandingan melawan klub raksasa Real Madrid dnegan segudang pemain terbaik dunia jika mau mendengarkan strategi yang disampaikan oleh pelatih Luis Enrique dan melakukannya dengan tepat.

Ajakan untuk berperang bagi Kerajaan Allah adalah sebuah hak istimewa. Agar bisa melaksanakannya dengan baik maka manusia itu harus hidup dan tinggal di dalam Dia, mendengarkan Dia dan melakukan semua yang diperintahkan-Nya.

Betapa sia-sianya kehidupan manusia jika pada akhir hidupnya Tuhan menyatakan “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Alangkah bahagianya ketika Dia mengatakan kepada kita: ”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.”

Soli Deo Gloria!

Dewasa Dalam Kristus